Pernikahan Antara Hary Tanoe dan George Soros

Bukan bermaksud untuk mengadu domba antar pembaca,namun ini berdasarkan hasil analisa oleh berbagai pihak yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Kemiripan antara keduanya bisa kita bandingkan dengan berbagai kejadian di masa lampau. Menilik dari judul diatas,penulis memohon maaf atas judul yang terlalu vulgar. Sehingga membuat pembaca penasaran atas tulisan yang kali ini saya muat.

Masih ingat dengan istilah kodok melahap gajah? Saat itu PT Transindo Multi Prima (TMP) mengakuisi dua perusahaan sekaligus. Padahal sebagian dari kita mungkin masih asing dengan PT Transindo Multi Prima. Namun,mengapa perusahaan kodok ini dapat mengakuisi 2 perusahaan gajah sekaligus yaitu PT Bentoel dan PT Lestariputra Wirasejatii(LW). Menurut data tercatat pada tahun 1999 aset  TMP hanya Rp 6,84 M lebih kecil dari Bentoel dan LW yang notabene masing-masing sebesar Rp 1,02 T(Bentoel) dan LW sebesar 99,11M. Siapakah dibalik semua itu?

Dibalik aksi semua itu PT Bhakti Investama menjadi pembeli siaga. Yang penulis tahu PT Bhakti inilah yang menjadi jejak dan jembatan petualangan bisnis Soros di Indonesia. Memang sih Soros punya saham sebanyak 14,5%  di Bhakti. HT pun tidak membantah adanya Soros turut ambil bagian dalam pembeliahn saham siaga tersebut.

“Yang jelas ada banyak investor asing di belakang kami,tidak menutup kemungkinan juga Soros” ujarnya.
Jauh-jauh hari, Harry telah menegaskan, Bhakti Investama memang sedang diarahkan untuk menjadi perusahaan investasi. Sinyalemen yang lebih seru mengatakan, Bentoel International Investama bakal jadi anak perusahaan
Bhakti Investama. Ini klop dengan rencana Harry untuk menjadikan Bhakti sebagai perusahaan investasi. Benarkah demikian? Harry tak mau berkomentar. Sinyalemen keberadaan si raja portofolio di balik akuisisi
itu pun makin kuat.
PT Bentoel Prima (BP) sesungguhnya merupakan salah satu anak perusahaan obligor kakap Grup Rajawali, milik pengusaha Peter Sondakh. BP mengantongi kewajiban senilai Rp 214,29 miliar dari total utang macet Rp
2,14 triliun. Celakanya, pemegang saham mayoritas atas nama PT Amanat Surya Kudus juga terjerat petaka yang sama. Perusahaan investasi ini masih harus berurusan dengan BPPN karena tunggakan utang senilai Rp 8,20
miliar. Nilai akuisisi 75 persen saham Bentoel senilai Rp 315 miliar,paling tidak, bisa menutupi kewajiban dua perusahaan itu senilai Rp 222,49 miliar.

Masih Jauh

Selain berganti nama, Transindo dikenal getol mengganti core business. Semula, dengan nama Rimba Niaga Idola, perusahaan ini bergerak di bidang tekstil. Tahun 1997, perusahaan ini beralih ke bisnis perdagangan umum
dan namanya pun berganti menjadi Transindo Multi Prima. Tak puas di bisnis ini, manajemen perusahaan melirik bisnis distribusi rokok.
Dari sini pula Transindo menjadi kendaraan beberapa pemodal untuk menguasai saham Bentoel Prima yang kebetulan sedang punya problem keuangan. Namanya pun berganti menjadi Bentoel International Investama.
Nama Bentoel mengekspresikan pealihan konsentrasi bisnis, sedangkan investama, boleh jadi berkaitan dengan kehadiran Bhakti Investama di sana.

Soal nama Bentoel yang mendompleng, sempat mengundang perdebatan.”Praktik seperti itu, de facto merupakan back door listing,” ujar
seorang analis asing. Hanya saja, itu masih disiasati dengan penguasaan portofolio melalui perusahaan lain. Toh, menurut dia, yang paling diandalkan adalah bisnis rokok. Sinyalemen lain mengatakan, hal itu dilakukan untuk memuluskan niat Soros yang lebih tertarik menguasai portofolio. Maksudnya, agar ada
saluran lewat perusahaan publik. Dengan begitu, bila kondisi kurang menguntungkan, saham akan bisa diguyur ke pasar.

Skenario pembelian saham dua perusahaan itu (Bentoel dan Lestariputra),sontak menggelembungkan kinerja perseroan. Asetnya membengkak dari Rp
6,8 miliar (per Oktober 1999) menjadi Rp 1,38 triliun. Trnsindo mendadak jadi perusahaan besar. Bahkan aset PT Lestariputra pun jauh mengungguli Transindo yakni sebesar Rp 99,11 miliar.

Selain memproduksi rokok, Bentoel Prima masih memiliki beberapa divisi penunjang seperti pengemasan, printing serta transportasi. Lestariputra pun masih di sektor yang sama dengan Bentoel. Perusahaan ini memproduksi
dan memperdagangkan rokok kretek. Salah satu merek yang terkenal adalah Star Mild.
Di bursa, sebelum rencana akuisisi itu diembuskan, saham Transindo sesungguhnya tergolong tak aktif diperdagangkan. Belakangan, pergerakan saham ini tampak sangat tidak wajar. Sejak November 1999 hingga 14
Januari 2000, saham ini sama sekali tak diperdagangkan dan terpaku di
posisi Rp 1.600 per lembar. Tak lebih sebulan kemudian, tepatnya 8
Februari, harga sahamnya telah melambung ke posisi Rp 19.000 per lembar.

Atas lonjakan dahsyat itu, Harry punya jawaban. “Ya, kalau harga saham
Gudang Garam bisa di angka belasan ribu, mengapa tidak untuk Bentoel
International Investama,” ujar Harry Tanoesoedibjo, enteng.

Anehnya, belum juga berakhir bulan Februari, pada tanggal 18 Februari
lalu, saham ini telah terjerembab ke posisi Rp 7.750 per lembar.
Rupanya, tak mudah untuk untuk menyaingi Gudang Garam. Seorang analis
mengatakan, upaya Bentoel International Investama menyaingi harga saham
Gudang Garam tak bakal terwujud. Selain size-nya kecil, pangsa pasar
Bentoel dan Star Mild jauh di bawah produk Gudang Garam. Apalagi,
akuisisi itu baru langkah awal untuk konsolidasi. Jadi, perusahaan ini
masih harus membuktikan dulu kinerjanya.

 

One thought on “Pernikahan Antara Hary Tanoe dan George Soros

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s